Senin, Januari 16, 2006

Nias Selatan

CERITA tentang Nias Selatan nyaris tidak lepas dari tradisi hombo batu. Atraksi lompat batu khas daerah ini pernah menghiasi lembaran uang seribu rupiah. Selain itu, Sorake, salah satu pantai di daerah itu, akrab di telinga penggemar olahraga selancar. Turnamen selancar tingklat dunia beberapa kali diadakan di pantai itu.
NAMUN, untuk langsung ke Teluk Dalam, ibu kota Kabupaten Nias Selatan, perlu usaha ekstra. Transportasi ke daerah ini masih tergolong sulit. Butuh waktu berjam-jam, bahkan bisa menghabiskan satu hari, untuk bisa menginjakkan kaki di kabupaten baru ini.
Nias Selatan sebelumnya adalah bagian Kabupaten Nias. Status otonom diperoleh pada 25 Februari 2003. Kabupaten ini terdiri dari 104 gugusan pulau besar dan kecil. Letak pulau- pulau itu memanjang sejajar Pulau Sumatera. Panjang pulau-pulau itu lebih kurang 60 kilometer, lebar 40 kilometer.
Dari seluruh gugusan pulau itu, ada empat pulau besar, yakni Pulau Tanah Bala (39,67 km2) Pulau Tanah Masa (32,16 km2), Pulau Tello (18 km2), dan Pulau Pini (24,36 km2). Tidak seluruh pulau berpenghuni. Masyarakat Nias Selatan tersebar di 21 pulau dalam delapan kecamatan.
Komunikasi menggunakan telepon dari dan ke kabupaten ini juga terbatas. Telepon terbilang barang mewah. Sambungan telepon sebanyak 369 hanya terpusat di Teluk Dalam. Itu pun sambungan dari Gunungsitoli. Tidak ada sinyal telepon genggam di kabupaten ini. Bila listrik padam, warung telekomunikasi yang jumlahnya kurang dari jumlah jari kaki dan tangan tidak berfungsi.
Keterbatasan sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi tidak hanya antara kabupaten dan tetangga di sekitarnya. Minimnya sarana itu juga terjadi antarkecamatan dalam kabupaten. Dari 212 desa, sekitar 60 persen tidak terjangkau kendaraan roda empat. Bahkan, tidak juga oleh kendaraan roda dua. Jalan yang menghubungkan Teluk Dalam dengan seluruh ibu kota kecamatan sekitar 80 persen rusak parah. Bila menelusuri daerah ini, tidak jarang terlihat jembatan dalam kondisi rusak. Untuk sampai seberang jembatan, perlu nyali berakrobat di antara papan penopang yang ada.
Sebagai daerah kepulauan, masyarakat bergantung kapal laut untuk berhubungan dengan "dunia luar". Meski jadi andalan, tidak setiap hari ada pelayaran. Iklim wilayah ini dipengaruhi oleh Samudra Hindia. Jika ombak tenang, kapal yang menghubungkan Teluk Dalam dengan Pulau Tello, misalnya, bisa berlayar 2-3 kali seminggu. Biasanya sekitar bulan September sampai November frekuensi pelayaran turun menjadi sekali seminggu. Tidak jarang, bahkan tidak ada pelayaran sama sekali. Pada bulan-bulan itu curah hujan di Nias Selatan sangat tinggi, dibarengi badai besar. Terkadang, badai mulai datang bulan Agustus. Cuaca di Nias Selatan bisa berubah mendadak.
Meski di Pulau Tello terdapat lapangan terbang perintis dengan penerbangan dua kali seminggu, jadwal penerbangan sangat bergantung cuaca. Bukan hal aneh bila penerbangan terpaksa dibatalkan karena kondisi cuaca yang buruk.
Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Nias dengan dialek Nias Selatan, yang berbeda dengan dialek masyarakat di kabupaten induk. Kualitas sumber daya manusia daerah ini minim. Sekitar 65 persen angkatan kerja berpendidikan sekolah dasar. Mayoritas menggeluti pertanian.
Komoditas unggulan sektor ini terutama dari perkebunan, yakni kelapa, karet, dan nilam. Seluruhnya merupakan perkebunan rakyat. Sentra perkebunan kelapa di Kecamatan Teluk Dalam, Lahusa, dan Amandraya. Di Kecamatan Lahusa, Lolomatua, dan Lolowa’u sentra tanaman karet serta nilam.
Hasil pertanian lain yang menjadi unggulan adalah padi dan ikan. Sentra tanaman padi di Kecamatan Teluk Dalam, Lahusa, dan Amandraya. Daerah tangkapan ikan di Kecamatan Pulau-pulau Batu dan Hibala
Komoditas unggulan daerah ini umumnya dijual dalam bentuk apa adanya, belum melalui proses pengolahan. Para pekerja menggarap komoditas andalan secara tradisional. Pada saat panen, hasil perkebunan dan perikanan dikapalkan ke Sibolga. Adapun padi habis dikonsumsi masyarakat. Meskipun penggarapan sumber daya alam pertanian masih dilakukan secara tradisional, sektor ini dan pariwisata menjadi tulang punggung perekonomian.
Di bidang pariwisata, potensi wisata kabupaten terletak pada jalur yang disebut Segitiga Emas Industri Pariwisata Nias Selatan, yakni Kecamatan Lolowa’u-Gomo-Pulau-pulau Batu. Porosnya adalah Omo Hada, rumah tradisional di Desa Bawomataluo, Kecamatan Teluk Dalam.
Berada di Desa Bawomataluo seakan terlempar ke masa silam. Deretan rumah tradisional terbuat dari kayu dengan arsitektur khas Nias itu dihuni sebagai mana layaknya kompleks perumahan. Ukiran batu megalitik menghias di beberapa tempat. Di perkampungan itu bisa juga disaksikan tradisi hombo batu atau lompat batu.
Di Kecamatan Pulau-pulau Batu terdapat lokasi menyelam, terumbu karang, serta ikan- ikan hias dan pantai berpasir putih. Adapun peninggalan zaman megalitik berupa batu-batu megalit di Kecamatan Lahusa dan Gomo. Andalan wisata lainnya adalah Pantai Lagundri yang berpasir putih serta Pantai Sorake yang ombaknya jadi sarana olahraga selancar.
Meski beberapa kali diadakan lomba berselancar tingkat internasional di Pantai Sorake, jangan harap lokasi itu tertata rapi. Sepanjang pantai Lagundri dan Pantai Sorake terdapat penginapan kelas "ampera". Sewa penginapan yang rata-rata berbentuk rumah panggung itu sekitar Rp 20.000 per malam. Terlihat jelas potensi wisata yang dimiliki kabupaten ini belum tergali optimal.
Pada tahun 2002, sekitar 80 persen dari 12.000 wisatawan asing dan domestik yang datang ke Pulau Nias mengunjungi kabupaten ini. Jika pemerintah Nias Selatan serius menggarap potensi pariwisata yang dimiliki, bisa jadi wisatawan yang datang, domestik atau mancanegara, meningkat.
Salah satu upaya pemerintah setempat agar daerah ini mudah dijangkau adalah membangun lapangan terbang. Kemudahan ini diharapkan dapat memacu perekonomian daerah. Ada beberapa pilihan untuk lokasi bandar udara yang membutuhkan lahan seluas 200 hektar itu, yakni Kecamatan Teluk Dalam, Lahusa, dan Amandraya.
BE Julianery/Litbang Kompas

Sumber : http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0404/06/otonomi/951933.htm

1 komentar:

borokoa mengatakan...

Bulan Januari 2006 saya ke Teluk Dalam, Nias Selatan. Jalan sudah cukup mulus dan bisa ditempuh dalam tempo 2.5 jam dari G. Sitoli. Telepon genggam sudah cukup banyak di sana.

Try Out UN | Matematika | SD

Naskah Try Out UN untuk SD berikut ini sudah saya ujicobakan pada anakku menjelang UN 2011 : Try Out #1 - Matematika SD Try Out #2 - Matemat...